Rabu, 14 Desember 2011

contoh makalah bronkhitis

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bronchitis adalah salah satu penyakit pada paru-paru yang peradangannya menyerang bronchus dengan prevalensi kesakitan di Indonesia cukup besar jumlahnya. Hal ini disebabkan karena peningkatan pertumbuhan industri yang mengakibatkan terjadinya polusi udara, juga meningkatnya angka perokok terutama di usia remaja dan produktif. Biasanya penyakit bronchitis ini mengalami batuk-batuk kering, nafas agak sesak lama-kelamaan batuk disertai juga adanya peningkatan suhu tubuh.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan berperan membantu klien penyakit ini dengan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif sehingga kebutuhan dasar klien yang terganggu dapat ditanggulangi.

B.     Tujuan

Memberikan gambaran asuhan  keperawatan pada pasien Bronchitis.

C.    Metode Penulisan

Penulisan makalah asuhan keperawatan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan membaca buku-buku sumber yang berkaitan dengan penyajkit bronchitis.

D.    Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I       :   Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II      :   Tinjauan Teoritis, terdiri dari konsep dasar yaitu pengertian, etiologi, tanda dan gejala.
BAB III    :   Asuhan Keperawatan, terdiri dari :
-          Pengkajian
-          Pemeriksaan fisik
-          Pemeriksaan penunjang
-          Penanganan
-          Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
-          Perencanaan, intrevensi, dan rasional
BAB IV :  Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA





















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian PPOK
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kondisi obstruksi irevesibel progresif aliran udara ekspirasi. Individu dengan PPOK mengalami kesulitan bernafas, batuk produktif, dan intoleransi aktifitas. Kelainan utama yang tampak pada individu dengan PPOK adalah bronkitis, emfisema dan asma.
B.  Pengertian Bronkitis Kronis
~           Bronkhitis kronis adalah penyakit atau gangguan pernapasan paru obstruktif yang ditandai dengan produksi mukus yang berlebih (sputum mukoid) selama kurang 3 bulan berturut-turut dalam 1 tahun untuk 2 tahun berturut turut. (Elizabeth .J. Corwin)
~           Bronkhitis kronis adalah gangguan pernapasan atau inflamasi jalan napas dan peningkatan produksi sputum mukoid menyebabkan ketidak cocokan ventilasi – perfusi dan penyebab sianosis. (Sylvia .A. Price)
Bronkhitis kronis (BK) secara fisiologis di tandai oleh hipertrofi dan hipersekresi kelenjar mukosa bronkial, dan perubahan struktural bronki serta bronkhioles. BK dapat di sebabkan oleh iritan fisik atau kimiawi (misalnya, asap rokok, polutan udara ) atau di sebabkan infeksi ( bakteri atau virus
Secara harfiah bronchitis dapat digambarkan sebagai penyakit gangguan respiratorik dengan gejala utama adalah batuk. Ini berarti bronchitis bukan merupakan penyakit yang berdiri sendiri, tetapi juga penyakit lain dengan bronchus sebagai pemegang peranan (Perawatan Anak Sakit, EGC, 1995)
Prefalensi kejadian :
Prefalensi lebih banyak kepada bayi sampai anak umur 5 tahun. Pengobatan yang tidak tuntas bisa beresiko besar untuk penderita penyakit gangguan pernafasan pada umur + 20 tahun. Terutama bila pada umur tersebut ia menjadi perokok aktif.


C.    Etiologi

Kasus terbanyak dari etiologi bronchitis biasanya akibat dari pengobatan influenza yang tidak tuntas, yang mana virus influenza yang menyerang bronchus.
Penyebab umum lainnya antara lain :
  • Virus (morbili, pneumonia variola)
  • Bacteri (pneumococcus, streptococcus, stafiloccus)
  • Parasit (askaris)
  • Kebiasaan merokok

D.    Patofisiologi

(terlampir)

E.     Tanda dan  gejala

Gejala yang paling utama seperti penyakit saluan nafas lainnya yaitu batuk, diikuti dengan sesak napas, bisa dengan atau tanpa dahak, setelah beberapa hari dahak akan bisa bercampur dengan nanah (mucopurulent). Pada tahap ini biasanya akan diikuti dengan demam, nyeri otot dan sendi serta sesak nafas yang lumayan hebat.
Bronchitis akut yang tidak diobati secara teratur akan menjadi kronik yang memungkinkan terjadinya infeksi, gangguan yang langsung akibat bronchitis kronis ialah bila lendir tertinggal di dalam paru sehingga terjadi akumulasi dan bronchiaektasis.

              





















Patofisiologi
Bronchitis


 




Iritasi jalan nafas akibat asap rokok       Terbentuknya eksudat          Proses infeksi


 

Hipersekresi lendir dan inflamasi          Ekskresi secret                 Merangsang  penge
                                                                                                        Luaran zat antigen
                                                                                                        antibody
Meningkatan sel-sel golbet                      Akumulasi secret 

Fungsi silia menurun                                         Batuk                   Reaksi,Inflamasi   








 

Bronchitis menyempit
dan tersumbat                               ketidak efektifan bersihan       Susunan syaraf pusat    
                                                     jalan nafas
Alveoli rusak                                                                               
                                                                                                     Pusat thermoregulasi
hipoksemia                                                                                                                         

merangsang  pusat chemoreseptor                                                Suhu meningkat
              
meningkatnya ventilasi gas               Metabolisme sel menurun

meningkatnya respirasi                          Kelemahan fisik

sesak nafas                                             Intolerasi aktivitas

inefektif pola nafas








BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian

a.       Identitas pasien ( nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, diagnose medis, dll )
b.      Identitas penanggung Jawab ( nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan klien )
c.       Keluhan utama
Sesak napas,
batuk-batuk berdahak
Dahak, sputum putih/mukoid
d.      Riwayat Penyakit Sekarang
Berisi latar belakang penyakit (mulai dirasakan oleh pasien), berkembang dan tindakan yang dilakukan dalam mengatasi penyakitnya
e.       Riwayat Penyakit Dahulu
Kaji dan tanyakan pada pasien, apakah seorang perokok, kaji riwayat penyakit pernapasan yang lainnya
f.       Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji apakah ada dalam anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien dan kaji apakah ada riwayat keluarga yang terkena penyakit saluran pernapasan.
g.      Pemeriksaan Fisik, meliputi :
1.   Keadaan Umum
Kaji keadaan umum pasien meliputi, tingkat kesadaran, ekspresi wajah, dan posisi klien saat datang.
2.   Pemeriksaan tanda-tanda vital
Suhu meningkat, tekanan darah meningkat, Respirasi meningkat
3.   Sistem Kardiovaskuler
peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, Bunyi jantung redup,
4.   Pemeriksaan Dada
Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal.
terdengar Bunyi nafas ronchi
Perkusi hyperresonan pada area paru.
Warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu – abu keseluruhan.
pada Auskultasi terdengar Ronchi +/+, kedua lapang paru, Wizing kadang (+), kadang samar
5.   Pemeriksaan Abdomen
6.   Pemeriksaan anggota gerak
Bisa terdapat edema dependent
Warna kulit/membran mukosa normal/cyanosis
Pucat, dapat menunjukkan anemi.
Turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat
7.   Pola aktifitas sehari-hari dengan:
·   Aspek biologi:
Mual/muntah.
Nafsu makan buruk/anoreksia
Ketidakmampuan untuk makan
Penurunan berat badan, peningkatan berat badan
·   Aspek Psiko:
Ansietas, ketakutan, peka  terhadaprangsangan.
·   Aspek Sosio:
Terjadi hubungan ketergantungan, kegagalan dukungan dari/ terhadap pasangan/ orang terdekat
8.   Pemeriksaan Penunjang
Rontgen Thoraks        à    gerakan kasar, pada apek paru
Laboratorium      à        terjadi peningkatan leucocyt
                              Kadang-kadang LED ↑
Pemeriksaan radiologis
Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal.
Corak paru bertambah



B.     Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbul
1.      Inefektif pola napas b/d edema pada bronkus
2.      Bersihan jalan napas tidak efektif b/d akumulasi sekret
3.      Peningkatan suhu tubuh b/d adanya proses inflamasi.
4.      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia
5.      Intoleransi aktifitas b/d kelelahan.

C.    Perencanaan Keperawatan

DP 1. Inefektif pola napas b/d edema pada bronkus

Kriteria hasil : suara napas vesiculer, inspirasi lebih panjang dari expirasi. RR = 18-20x/menit.
INTERVENSI
RASIONALISASI
-          Pantau : status pernafasan tiap 4 jam, tanda-tanda vital tiap 8 jam.

-          Pertahankan posisi fowler atau semi fowler.



-          Anjurkan klien untuk tidak banyak bicara dan tidak memakai baju yang terlalu ketat serta tidak terlalu banyak orang dalam ruangan.


-          Anjurkan pasien untuk melakukan nafas dalam tiap 2 jam sekali.

-          Kolaborasi dengan petugas medis/ dokter untuk pemberian oksigen.



-          Anjurkan pasien untuk berhenti merokok
-          Untuk mengidentifikasi kemajuan dan atau penyimpangan yang diharapkan.
-          Posisi ½ duduk/duduk dapat/ memungkinkan expansi paru lebih penuh dengan cara menurunkan tekanan abdomen pada diafragma.
-          Agar tidak menambah sesak nafas pada klien





-          Nafas dalam dapat mencegah atelektasis pada paru.


-          Pemberian oksigen tambahan dapat menurunkan kerja pernafasan.



-          Nikotin dapat menyebabkan penyempitan pada bronchus

DP 2. Bersihan jalan napas tidak efektif  b/d akumulasi sekret

Tujuan : kepatenan jalan napas tetap terpelihara
Kriteria hasil : bunyi napas bersih, frekuensi napas antara 12-24 per menit dan warna kulit normal.
INTERVENSI
RASIONALISASI
-          Anjurkan klien untuk melakukan posisi fowler atau semi fowler


-          Anjurkan klien untuk batuk efektif
-          Berikan/anjurkan pada klien untuk minum air putih hangat yang cukup + 2 L/hari.
-          Kolaborasi untuk pemberian terapi expectoran.

-          Izinkan klien untuk membatukkan sekret, jika tidak dapat membatukan sekret lakukan penghisapan/section.

-          Posisi ½ duduk/duduk dapat/ memungkinkan expansi paru lebih penuh dengan cara menurunkan tekanan abdomen pada diafragma.
-          Batuk dapat membantu pengeluaran sekret
-          Minum air hangat secukupnya  membantu untuk pengenceran dan pengeluaran sekret.
-          Dengan terapi expectoran diharapkan membantu untuk pengeluaran sekret.
-          Penghisapan berguna untuk mengeluarkan sekret dan membantu mempertahankan kepatenan jalan napas.



DP 3. Peningkatan suhu tubuh b/d adanya proses inflamasi.
Tujuan : tidak ada gejala infeksi
Kriteria hasil :
-          Suhu tubuh 36-370C
-          Batuk produktif tidak ada lagi
INTERVENSI
RASIONALISASI
-          Pantau :mengontrol  suhu tiap 4 jam.


-          Berikan kompres hangat


-          Berikan pakaian tipis


-          Kolaborasi dengan petugas kesehatan dalam pemberian antibiotik.
-          Untuk mengidentifikasi kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai dan penyimpangan-penyimpangan dari sasaran yang diharapkan.
-          Dapat membantu melancarkan peredaran darah dan dapat mempercepat penguapan.
-          Pakaian tipis dapat membantu penyerapan keringat dan membantu penguapan suhu tubuh.
-          Infeksi merupakan faktor pencetus distress pernafasan yang paling sering, oleh karena itu sering kali antibiotik diberikan sebagai pengobatan dan pencegahan terhadap infeksi.

DP 4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia

Tujuan : nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil : peningkatan masukan makanan, tidak ada penurunan berat badan lebih lanjut.

INTERVENSI
RASIONALISASI
-          Pantau :
      * obserfasi jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
* Timbang berat badan setiap 2 hari sekali

-          Berikan makanan porsi kecil tapi sering dalam keadaan hangat

-          Hindari pandangan yang mengurangi nafsu makan.

-          Kolaborasi dengan petugas gizi untuk memilih makanan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi selama sakit.

-          Untuk mengidentifikasi kemajuan-kemajuan atau penyimpangan dari sasaran yang diharapkan.



-          Kebanyakan pasien lebih suka mengkonsumsi makanan yang merupakan pilihan sendiri.
-          Mengurangi resiko mual dan muntah


-          Membantu pasien memilih makanan yang memenuhi kebutuhan kalori dan kebutuhan nutrisi.












Dp 5. Intoleransi aktifitas b/d kelelahan.
Tujuan : pasien menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas.
Kriteria hasil : menurunnya keluhan sesak napas, lemah dalam melaksanakan aktivitas.
INTERVENSI
RASIONALISASI
-          Pantau : nadi dan frekuensi nafas sebelum da sesudah aktifitas.

-          Beri bantuan dalam aktifitas yang diperlukan dengan interval waktu untuk memungkinkan istirahat diantara kegiatan.
-          Meningkatkan latihan aktifitas secara bertahap.
-          Mengidentifikasi kemajuan dan penyimpangan dari sasaran yang diharapkan.
-          Istirahat memungkinkan kembalinya energi.


-          Memungkinkan latihan sesuai kemampuan dan tidak memberatkan pasien.

  1. Evaluasi
1.      Pola pernafasan menjadi efektif,
2.      Bersihan nafas membaik.
3.      Suhu tubuh menjadi normal
4.      Pemenuhan nutrisi terpenuhi
5.      Mempertahakan atau berupaya kearah peningkatan tingkat aktivitas.






BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bronkitis kronis adalah penyakit yang diakibatkan karena adanya peradangan pada bronkus yang di sebabkan oleh infeksi, polutan udara, dan asap rokok, tanda dan gejala pada bronchitis kronis adalah batuk, diikuti dengan sesak napas, bisa dengan atau tanpa dahak, setelah beberapa hari dahak akan bisa bercampur dengan nanah (mucopurulent). Pada tahap ini biasanya akan diikuti dengan demam, nyeri otot dan sendi serta sesak nafas yang lumayan hebat.
B.     Saran
Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi referensi bagi para mahasiswa keperawatan maupun pembacanya dalam pembuatan Asuhan Keperawatan tentang penyakit Bronkitis Kronis.
Kami sebagai penyusun menyadari adanya kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembacanya bagi kami sebagai penyusun makalah ini.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar